Andalan

Mengatasi Masalah Stress pada lansia

Mengatasi Masalah Kejenuhan pada lansia dengan Berkebun – Dalam beraktivitas apapun, termasuk melakukan aktivitas waktu luang, selain mendapat manfaat dan kepuasan, seorang lanjut usia pasti pula merasakan tekanan dan hal-hal yang kurang mengenakkan apabila apa yang dilakukannya mengalami kegagalan atau kerusakan. Didapatkan dari hasil penelitian, masing-masing responden memiliki masalah tersendiri dengan masing-penyelesaian pula. Ketika responden mengalami kelelahan akibat aktivitas yang menekan daya tahan tubuhnya, ia akan beristirahat atau melakukan aktivitas lainnya yang menurut ia mampu menyelesaikan masalah dan meringankan bebannya. Salah satu cara dalam pengelolaan stress dari salah satu responden adalah dengan merenung, berdoa dan beribadah. Berikut beberapa aktifitas agar orang dengan lanjut usia tidak mudah jenuh atau mengalami strees diantaranya : Berkebun, Berbelanja, Menonton TV, Olahraga ringan, Menjaga kualitas tidur, menjaga pola makan yang sehat dan masih banyak yang lainya.

Dikatakan oleh Lorenz, Doherty & Casey (2019), kegiatan yang berhubungan dengan spiritual dapat meringankan stressor yang memengaruhi mood dikarenakan peristiwa yang tidak mengenakkan dan kegiatan ini memfasilitasi meningkatkan keyakinan terhadap keinginan dan menumbuhkan sikap dan kepercayaan spiritual serta menguatkan diri . Menurut penelitian Yasuhima Hama (2001), dikatakan bahwa berbelanja dapat menanggulangi stress bila dilakukan dengan intensitas yang sedikit. Sebaliknya, bila dilakukan dengan intensitas yang besar, dengan menghabiskan banyak hingga seluruh uang yang dimiliki, tidak akan berpengaruh untuk menurunkan tingkat stress. Menonton televisi juga menjadi pelampiasan untuk menanggulangi stress pada lanjut usia dan menjadi pilihan untuk sering dilakukan oleh lanjut usia.

Anderson et al (1996) menyatakan bahwa menonton televisi dimungkinkan merupakan aktivitas yang berguna untuk menanggulangi stress dan kecemasan.  Adapula lanjut usia yang menuju ke sawah maupun kebun hanya untuk melihat-lihat sekelilingnya dan merasa senang dan tenang walaupun hanya memandangi tanaman yang ditanamnya. Menurut Fox (2017) menyatakan bahwa berkebun maupun kegiatan pergi ke kebun memberikan rasa menyenangkan dan tertarik untuk berkunjung kembali. Selain itu Menjaga Kualitas tidur juga dapat membantu mencegah dan mengurangi stress. Browne et al., (1994) mengatakan kelelahan atau kurang tidur pada individu dapat menimbulkan risiko signifikan bagi kesehatan. Dengan demikian kekurangan tidur dapat mengganggu kesehatan dan akivitas sehari-hari lainnya.

Jadi untuk mencegah hal-hal tersebut biasanya seseorang yang sudah lanjut usia juga perlu istirahat yang cukup karena Kebanyakan lansia mengalami kesulitan tidur dan pola tidurnya tidak teratur.

Menurut Ancoli-Israel, Ayalon, & Salzman (2008) Bahwa gangguan tidur atau insomnia adalah gangguan yang sering terjadi pada orang dengan lanjut usia dan juga memiliki dampak yang serius, yaitu seperti kehilangan ingatan, jatuh dan patah tulang, penyakit kardiovaskular dan gangguan medis lainnya, dan kualitas hidup yang menjadi lebih buruk karena insomnia. Selain pola tidur juga perlu menjaga pola makan dan juga asupan nutrisi.Menurut Kriss Etherton, Harris dan Appel (2002) Minyak ikan juga dapat dikonsumsi oleh orang dengan lanjut usia karena mengandung asam lemak tak jenuh ganda omega-3 rantai panjang yang dikenal sebagai asam docosahexaenoic (DHA) dan asam eicosapentaenoic (EPA) yang mana berfungsi untuk menyehatkan jantung agar tidak mudah kelelahan. Selain itu minyak ikan juga dapat mencegah orang lanjut usia mengalami dimensia.

APA ITU OKUPASI TERAPI ? BAGAIMANA PROSPEK KERJA KEDEPANNYA ?

Perkenalkan Nama saya Faris Dwi Noviyanto. saya mahasiswa OKUPASI TERAPI di POLTEKKES SURAKARTA. Pada kali ini saya akan sedikit menjelaskan sejarah dan apa itu Okupasi Terapi, karena mayoritas orang- orang belum mengenal Okupasi Terapi bahkan ada yang mengatakan Okupasi Terapi itu sama dengan Fisioterapi.

Okupasi Terapi sering disalahartikan sebagai sesuatu yang berkaitan dengan konseling karir. Padahal, terapis okupasi tidak berhubungan tentang pekerjaan; mereka fokus pada kegiatan yang memberi makna pada kehidupan sehari-hari.

Terapi okupasi membantu pasien memulihkan atau mengembangkan keterampilan yang dibutuhkan untuk kegiatan kehidupan sehari-hari, termasuk perawatan diri, rekreasi, kehidupan mandiri dan bekerja. Terapis bekerja di rumah sakit, di sekolah, di panti jompo dan dengan pasien di rumah mereka sendiri.

Pasien yang mendapat manfaat dari terapi okupasi, atau OT, termasuk penderita stroke, orang-orang dengan autisme dan gangguan perkembangan lainnya, orang yang baru pulih dari operasi tertentu, orang yang menderita depresi atau kecemasan, serta veteran dan lanjut usia (lansia), ini menurut Virginia Stoffel, presiden dari American Occupational Therapy Association (AOTA) dan asisten profesor di University of Wisconsin-Milwaukee.

Terapi Okupasi adalah bentuk layanan kesehatan kepada masyarakat atau pasien yang mengalami gangguan fisik dan atau mental dengan menggunakan latihan/aktivitas mengerjakan sasaran yang terseleksi(okupasi) untuk meningkatkan kemandirian individu pada area aktivitas kehidupan sehari-hari, produktivitas dan pemanfaatan waktu luang dalam rangka meningkatkan derajat kesehatan masyarakat.Tujuan utama dari Okupasi Terapi adalah memungkinkan individu untuk berperan serta dalam aktivitas keseharian.

Dalam memberikan pelayanan kepada individu, okupasi terapi memerhatikan aset (kemampuan) dan limitasi (keterbatasan) yang dimiliki individu, dengan memberikan aktivitas yang purposeful (bertujuan) dan meaningful (bermakna). Dengan demikian diharapkan individu tersebut dapat mencapai kemandirian dalam aktivitas produktivitas (pekerjaan/pendidikan), kemampuan perawatan diri (self care), dan kemampuan penggunaan waktu luang (leisure).

“Okupasi terapis membantu orang-orang di mana mereka tinggal, di mana mereka bekerja, di mana mereka belajar dan di mana mereka bermain,” — Stoffel.

Sejarah OT Indonesia

Pelayanan okupasi terapi di Indonesia dimulai sekitar tahun 1970 dipelopori oleh dua orang okupasi terapis. Mereka adalah Bapak Harry Siahaan yang lulus dari Selandia Baru dan Bapak Joko Susetyo yang lulus dari Australia. Bapak Harry memulai pelayanan okupasi terapi di kesehatan jiwa dan beliau merupakan pelopor pelayanan okupasi terapi di kesehatan jiwa. Sedangkan Bapak Joko mendirikan pelayanan okupasi terapi di Rumah Sakit Ortopedi di Solo dan beliau merupakan pelopor pelayanan okupasi terapi di gangguan fisik. Setelah itu, mereka berdua mengelola pelatihan okupasi terapi asisten di rumah sakit besar di Indonesia. Selama tahun 1970 – 1997, pelayanan okupasi terapi di rumah sakit dilakukan oleh okupasi terapi asisten. Beberapa okupasi terapis dari luar negeri seperti dari Amerika Serikat, Inggris, dan Belanda juga datang ke Indonesia untuk memberikan pelatihan untuk okupasi terapi asisten di beberapa rumah sakit.

Pada tahun 1989, empat orang dosen dari Akademi Okupasi Terapi Surakarta dikirim ke Universitas Alberta, Kanada untuk meraih Sarjana Okupasi Terapi dengan dibiayai The Canadian International Developmental Agency. Mereka adalah Tri Budi Santoso, Bambang Kuncoro, Dedy Suhandi, dan Khomarun. Mereka berempat menjadi staf inti Akademi Okupasi Terapi Surakarta. Proyek lainnya termasuk persiapan jurusan okupasi terapi pertama di Indonesia, kunjungan ke rumah sakit dan pembuat kebijakan yang berkaitan dengan okupasi terapi, pelatihan kurikulum okupasi terapi, penyediaan buku okupasi terapi dan peralatan laboratorium okupasi terapi. Akademi Okupasi Terapi Surakarta, Indonesia didirikan pada tahun 1994. Pada tahun 1997, mahasiswa okupasi terapi angkatan pertama lulus dan sebagian besar dari mereka langsung bekerja. Pada tahun 2000, jurusan okupasi terapi disetujui oleh WFOT. Departemen Okupasi Terapi Fakultas Rehabilitasi Medik Universitas Alberta sampai sekarang membantu jurusan okupasi terapi di Sukarta. Saat ini akademi okupasi terapi di Surakarta bergabung dengan Polteknik Kesehatan Surakarta (Poltekkes Surakarta) di bawah pengawasan Kementerian Kesehatan dan Jurusan Okupasi Terapi di Poltekkes Surakarta menyelenggarakan Program Diploma 4 Okupasi Terapi. Semenjak pendirian akademi okupasi terapi di Surakarta banyak mahasiswa okupasi terapi Kanada melakukan praktik klinik di Indonesia.

Peluang pekerjaan pada bidang Okupasi Terapi

Jumlah keseluruhan okupasi terapis di Indonesia pada saat ini sekitar 1000 orang dan kebanyakan mereka bekerja di sektor swasta seperti klinik dan rumah sakit swasta. Akibat tingginya permintaan kondisi tumbuh kembang, 60% okupasi terapis di Indonesia bekerja pada area tumbuh kembang. Bekerja dengan orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus akan memahami pekerjaan okupasi terapi. Jika dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia yang sekitar 240 juta orang, jumlah okupasi terapis di Indonesia jauh dari cukup untuk memberikan pelayanan okupasi terapi ke seantero negeri. Kebutuhan okupasi terapis di Indonesia pada saat ini sangat tinggi, namun banyak rumah sakit dan klinik yang tidak memiliki okupasi terapis. Banyak okupasi terapi yang bekerja paruh waktu di beberapa rumah sakit swasta atau untuk memenuhi permintaan okupasi terapi. Kebanyakan okupasi terapis bekerja di Pulau Jawa, sementara lainnya bekerja di pulau lain seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Bali dan Irian.

Di masa depan, pengajar okupasi terapi dengan gelar magister dan doktor dibutuhkan untuk mendirikan lebih banyak sekolah okupasi terapi sehingga sekolah tersebut akan mampu menghasilkan lebih banyak okupasi terapis untuk memberikan pelayanan okupasi terapi ke seantero negeri.

Refrensi

  1. World Federation of Occupational Therapy. 2010. Statement on Occupational Therapy
  2.  Santoso, Tri Budi. 2014. Tokyo Occupational Therapy Research No. 2 Vol. 2. The Development of Occupational Therapy in Indonesia.
Tidak ada komentar untuk ditampilkan.
Rancang situs seperti ini dengan WordPress.com
Mulai